MIT School Muslimah : Anak-anak dan Teknologi

anak-anak teknologi

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi observer program sit-in di sebuah SMP di daerah Depok. Program sit-in ini ditujukan bagi siswa kelas 6 SD yang berminat mendaftar di SMP tersebut, sekaligus sebagai bentuk seleksi masuk. Sit-in berlangsung selama lima hari. Para siswa kelas 6 ini ditugaskan untuk membuat film pendek berupa iklan layanan masyarakat dengan tema tertentu secara berkelompok.

Di hari pertama, beberapa siswa yang berinisiatif diberi kesempatan untuk memperkenalkan dirinya. Tidak begitu mengherankan bahwa anak kelas 6 SD di tahun 2016 sudah berbeda jauh dengan anak kelas 6 SD di zaman saya, tahun 2005. Cita-cita mereka bukan lagi menjadi pilot, guru, atau dokter. Cita-cita mereka adalah menjadi saintis, programmer, animator, atau web developer. Seorang anak bahkan menyebutkan bahwa hobinya, bukannya bermain game, tapi membuat game.

Tentu saja kondisi ini tidak bisa digeneralisasi pada masyarakat umum Indonesia. Setidaknya kondisi ini dapat memberi gambaran bahwa dunia, tentu saja,  sudah banyak berubah.

Sementara itu sebagian sekolah setingkat menengah atas melarang siswanya membawa smartphone dan laptop. Khawatir mengganggu pelajaran. Sebagian orang tua menerapkan strict no-gadget policy pada anak-anaknya. Khawatir kecanduan. Karena konon katanya gaming mengandung bahaya yang lebih besar ketimbang kecanduan narkoba.

Penelitian Marina Umaschi Bers, seorang profesor dalam bidang child and human development, menunjukkan bahwa mempelajari programming meningkatkan skor kemampuan anak dalam tes sequencing dan excecutive functioning. Kemampuan sequencing ini menurut Bers memiliki efek positif terhadap pemahaman bacaan (reading comprehension).

Namun di sisi lain Victoria Dunckley seorang psikiater anak, mengatakan bahwa paparan layar gadget dapat memicu gejala ADHD dan OCD. Ia menyarankan agar pengenalan teknologi dan gadget baru dimulai pada usia sekolah menengah.

Akan selalu ada kontroversi yang tak ada habisnya mengenai hal ini. Tetapi, kembali mengenang cemerlangnya anak-anak kelas 6 SD di awal cerita, saya merasa yakin bahwa teknologi dapat dikenalkan pada usia yang cukup dini. Bagaimanapun juga teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengenalkan teknologi dalam paradigma yang lebih luas. Anak-anak seharusnya tidak hanya menjadi konsumen pasif produk teknologi. Alih-alih, kita seharusnya mendorong anak-anak (dan siapapun!) untuk memanfaatkan teknologi hingga mencapai potensi maksimalnya.

Loading Facebook Comments ...