Brian Arfi : Berbagi di IE Charity 2010

ie-charity-Small

Blog Dhezign.com | Sabtu siang, 17 April kemarin saya kembali ke kampus Teknik Industri Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Meskipun saya masih berstatus mahasiswa di TI ITS, tapi kali itu saya datang ke sana tidak untuk kuliah ataupun berurusan dengan dosen.

Siang itu saya diminta adik-adik angkatan saya untuk menjadi pembicara dalam acara pelatihan yang mereka selenggarakan. Saya sangat tertarik dengan konsep acara yang mereka selenggarakan.

Nama acaranya Industrial Engineering Charity 2010 (IE Charity 2010). Menurut panitia, acara ini adalah acara sosial yang diselenggarakan untuk memberikan pelatihan kepada siswa-siswa tingkat sekolah menengah atas, terutama bagi yang berasal dari keluarga kurang mampu, agar mereka lebih
siap menatap masa depan dan mempunyai keahlian untuk mencapainya.

Oleh panitia saya diminta menyampaikan materi tentang kewirausahaan.

Memasuki ruangan pelatihan, saya melihat puluhan siswa-siswi SMA dan SMK Surabaya tengah disiapkan panitia untuk mengikuti materi.

Saya memulai materi dengan bercerita tentang pengalaman saya yang berusaha untuk mendapatkan tambahan uang jajan sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Saya menceritakan bagaimana saya berjualan poster ke teman-teman SD, kemudian bagaimana usaha menambah uang saku dengan mengikuti berbagai ajang perlombaan di saat SMP dan SMA, serta bagaimana perjuangan saya mulai berbisnis untuk menghidupi keluarga di awal-awal masa kuliah.

Contoh-contoh tersebut saya sampaikan untuk membangkitkan kepercayaan diri mereka, bahwa setiap orang bisa mendapatkan hasil yang baik jika mereka tahu apa yang mereka tuju dan mau berjuang untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini, tentu saja berkaitan dengan kewirausahaan.

Selanjutnya saya bercerita tentang perjalanan bisnis saya yang banyak gagalnya. Namun dari kegagalan tersebut saya banyak belaar. Dalam materi tersebut saya ingin menyampaikan bahwa untuk mencapai suatu tujuan (berwirausaha) orang akan menemuai masalah dan tidak sedikit yang akhirnya gagal. Namun, ketika seseorang itu mampu bangkit dari kegagalan, berarti ia tengah bersiap untuk menyambut kesuksesan.

Saat tiba sesi tanya jawab, banyak pertanyaan menarik dari para peserta. Ada yang bertanya: Bagaimana kalau kita termasuk orang yang tidak kreatif? Padahal kewirausahaan kan perlu kreatifitas?

Lalu, saya jawab: Yang bisa dilakukan untuk tipe orang seperti itu adalah ATP. Amati, Tiru, Plek. Artinya, mereka bisa mengamati model bisnis yang sudah terbukti berhasil, kemudian mereka bisa menirunya. Dengan begitu, paling tidak mereka telah bisa mempraktikkannya.

Pertanyaan lain, misalnya: Bagaimana cara mencari peluang untuk berbisnis? Apalagi kami masih sekolah.

Saya jawab: Peluang bisnis bisa dicari dari hal yang paling dekat dengan diri Anda. Misalnya hobi, keinginan lingkungan terdekat, dan dari kemampuan yang Anda punya. Tidak perlu muluk-muluk. Lakukan dari yang sederhana. Dan kalau memang tidak bisa dilakukan sendiri, bekerjasamalah.

Satu hal yang saya pesankan kepada mereka. Jika nanti menjadi wirausahawan, berwirausahalah dengan hati. Maksudnya, berusahalah untuk tidak selalu memandang dari segi hasil semata. Cobalah untuk menghargai setiap proses yang dialami ketika menjalankan wirausaha. Berusahalah untuk menjadi wirusaha yang beretika baik dan mempergunakan cara-cara baik untuk mendapatkan sesuatu. Jika itu yang dilakukan, saya yakin, ketika kesuksesan dicapai, kepuasan lahir batin akan terwujud.

Loading Facebook Comments ...